04/07/18

Tentang Bowo dan tiktok

foto: IDN times
Bocah itu dengan pedenya melet-melet di depan kamera, lalu ngepas-ngepasin mulut dengan suara vokal yg muncul dari aplikasi instan pemilih lagu. Setelah itu bisa jadi dilanjut dengan memilih filter yang tepat. gimana wajah jadi lebih tamvan menawan. tentu cari filter pemutih wajah. jangan lupa speed  videonya, mau slow, sedang-sedang saja atau ngebut. semua tentu sesuai kebutuhan. jangan lupa pula sebelum tampil harus memikirkan mau pakai baju apa. kaos merek terkenal meski KW, topian atau mamerin jambul diujung rambut.

sekilas kita kayak liat anak yang kurang kerjaan, demi eksis dan narsis ADM (anak dunia maya) itu bergaya habis-habisan dengan alaynya. Alay menurut orang-orang dewasa tentunya. Atau menurut orang yg punya standard norma tertentu yang menganggap kelakuan ADM itu jijik dan memalukan.

Lalu orang-orang dewasa yang merasa bermoral itu bergerombol memprotes aplikasi TikTok. konon demi menjaga moral bocah-bocah piyik itu. dengan standard norma yang mereka sepakati tentu saja. dibumbu norma agama versi mereka.
lalu munculah petisi tuntutan menutup aplikasi tiktok yang mendapat dukungan luas. Hampir 3ribu dukungan untuk menutup tiktok muncul di petisi online cange.org. dari ibu-ibu pengajian sampai anak kampus dan aktivis yang gerah dengan merebaknya anak dunia maya yang sedang merayakan kreativitas dna kenarsisasnnya. Protes disambut Kominfo. Mulai tadi malam aplikasi yiktok diblokir. para pemrotes tentu saja lega.

Para ADM (anak dunia maya)? Belum dengar saya mereka bikin demo tandingan atau gerakan yang lain.
yang jelas, salah satu artis tiktok sebut saja Bowo di rundung habis-habisan. Pelakunya? dari seleb sampai bocah ingusan. Dengan tanpa dosa meblejeti Bowo yang dengan nyali baja berani menghargai dirinya dengan nilai 80ribu untuk foto bersama. Menurut saya sih keren. Bisa menjual diri setelah hasil jerih payahnya bertiktok ria menuai penggemar. Wajarlah harga segitu. Messi aja sekali main bola milyaran.. Iyakan Wo!
Jangan pada heran kalau suatu saat Bowo lebih kondang dari Hanung, bisa memproduksi tidak cuma video 15 detikan, tetapi film panjang dengan  cerita dan gambar ciamik. laku tentu saja. Amin

Hal lain, yang  pasti, bibit-bibit sutradara itu kehilangan lapangan permainannya, setelah lapangan sepakbola juga raib dari kampung-kampung. Bocah-bocah yg dianggap alay itu tak lagi bisa praktek laiknya sutradara film, memilih kostum yang tepat, berakting semaksimalnya, atau malah mengatur tim jogetnya supaya koreografinya terlihat gokil, kemudian mengedit video, mengatur kecepatan gambar, memilih sound yang tepat, mau pakai lagu yang ada di aplikasi atau malah nyanyi sendiri.

Tiktok yang dianggap biang amoral lalu diberondong dengan tuduhan negatif lainnya itu sejatinya pondasi anak-anak belajar sinematografi. tak perlu nunggu masuk IKJ atau FSMR ISI bocah-bocah dibawah 15 tahun itu  sudah memproduksi video meski cuma 15 detik.

Kalau yang dipikir negatifnya aja sih semua aplikasi media ssosial dari FB sampai twitter ya mengandung sampah informasi dan konten pornografi. sudah tutup aja semua!
KZL!