15/02/13

Lori (cerita masa kecil)


Tahun 1982
Musim panen tebu telah tiba,
Itu berati kampungku akan benderang kembali.
Setelah "singup" karena dikelilingi ilalang tinggi yang seakan menenggelamkan kampung dalam rimbunan pohon nan rapat, yang saat malam membuat suasana jadi ringut.
Juga membuat banyak maling berkeliaran di desa. Mereka merasa leluasa saat melarikan diri sehabis mencuri. Terbon menjadi tempat yang aman pelarian mereka.
Wak  Cokro, yang menjadi keamanan kampung kami paling di segani maling-maling itu. Konon kabarnya ia “dug-deng” ditunjang tubuhnya yang tinggi.
Maling-maling yang tertangkap oleh dia lalu di seret ke kantor polisi Pundong. Tapi bisa dipastikan sebelumnya dibuat babak belur terlebih dahulu.
keganasan maling pernah kulihat saat di suatu malam ada yang mencoba :menggangsir” rumah Pak Dukuh. Tembok rumah yang kokoh di “bobok” dengan linggis, sampai tembus. Lalu maling-maling itu masuk lewat lubang gangsiran. Setelah bisa masuk, mereka menggasak apapun harta yang ada di dalam rumah.
Sayang Wak Cokro waktu itu tidak giliran ronda. Maling-maling itu sukses menggarong rumah Pak Dukuh, dan kabur dengan aman. Kabarnya emas batangan milik Pak Dukuh raib ikut di gasak. Meninggalkan "senthir" sebagai penerang saat menggangsir yg tumpah minyak tanahnya.

Aku dirumah Kang Gino siang itu.
merencanakan sesuatu tentu saja. Yah, kami tergoda mencicipi batang manis yang sudah siap panen di pesawahan sebelah timur  dekat rumah kang Gino.
Harus berhati-hati saat mau “mengambil’ tebu. Di saat tebu sudah tua seperti saat ini, mandor tebu jadi rajin meronda. Berkeliling naik sepedha ontel, dengan kumisnya yang melintang.
beberapa waktu yang lalu aku, pangat dan domber pernah nyaris tertangkap.

Saat itu kami tidak dengan kang Gino.
Kami mengambil tebu dari sisi utara, dengan tanpa perghitungan bahwa di sisi utara, tepatnya di depan rumah wak dukun, ada dangau yang sering dipakai untuk melepas lelah para mandor. Kami berindap dari situ.
Dua lonjor tebu sudah kami babat dan siap dibawa keluar terbon.
Saat kami keluar itulah, dari arah rumah wak dukun muncul mandor Kardi. Wajahnya memerah melihat tiga bocah ingusan "mendodosi" tebu yang dijaganya. 

Suara lantang berbareng ayunan parang membuat kami terbirit-birit. Untung kami lebih lincah bak rombongan kancil, dan belum teracun nikotin. Mandor Kardi yang ngerokoknya mirip cerobong asap itu menyerah saat mengejar kami. Hanya bisa misuh-misuh sambil menahan langkah yang tersengal. Mirip macan tua hampir "klenger" kehabisan nafas.
Aku, Pangat dan Domber kalang kabut lari.. lalu bersembunyi di bawah langgar kakekku yang memang berbentuk panggung. Kami menyelinap dibawahnya. Sampai merasa aman.
Sejak itu kami kapok lombok.. tidak berani nyolong tebu.


Baru hari ini aku bersama Kang Gino ke ladang tebu.
rupanya sudah masa panen. Di jalan sudah dipasang rel-rel yang akan dilewati lori pengangkut tebu.
terbon mulai di babat tepat di tengah. Karena ladangnya luas, untuk sampai ke tengah dibuatkan jalan darurat. Untuk memudahkan mengangkut tebu.
Setelah itu, tebu dikumpulkan diatas lori yang memanjang.
banyak warga yang menjadi  pekerja dadakan. Diantaranya adalah pemilik lahan yang selama ini disewa untuk ditanami tebu.
Aku dan kang Gino kali ini tidak takut-takut lagi. Saat panen seperti ini, kami di bebaskan mengambil tebu. Aku suka mengambil dongklak tebu, yaitu tebu paling ujung dekat akar. Kadang  tebu ditebas terlalu keatas, dan menyisakan batang yang masih lumayan panjang, sampai di akar. Itu ros tebu yang paling manis.
Saat mendekat ke ladang tebu, tiba-tiba mataku melihat dua orang besar sedang berdiri di depan. Salah satunya adalah.. mandor yang beberapa waktu lalu mengejarku dengan pangat dan domber. Langkahku terhenti saat melihat kilat matanya. Kaki ini sudah siap-siap berbalik arah.
Di samping mandor ada lelaki lain yang kukenal. Ia adalah Kang Tubi, Preman kampung yang cukup sohor.
“Eh.. Kowe.. putune Mbah Kyai to?” seru kang Tubi saat melihatku aku mengurungkan niat untuk lari.
Tiba-tiba kang Tubi masuk kearah terbon, sebelumnya tangannya merebut parang di tangan mandor tebu yang diam saja.
Mandor itu mengalihkan perhatiannya kearahku. Lalu berjalan menjauh. Aku masih diam. Kang Gino yang seakan tak meperhatikanku sudah meloncat pula kedalam terbon. 
Mendekati orang-orang yang merembang  tebu.

Tak lama kang Tubi muncul dengan 4 lonjor tebu besar-besar. Lalu mengangsurkannya kearahku.. “Nyohh le, tak jupukne.. Ndang digowo bali kono” kata Kang Tubi ringan.
Aku menerima dengan sepenuh suka tebu pemberian Kang Tubi. Mataku masih sempat melihat kearah mandor yang berdiri di kejauhan. Kilat matanya masih sama. Tapi dia tak bereaksi apa-apa. Mungkin segan dengan Kang Tubi.
Tanpa memikirkan Kang Gino, aku pulang ke rumah. Tak perlu susah payah di tanganku sudah ada tebu manis, pemberian Kang Tubi.

Dari halaman belakang rumah, sambil mengunyah tebu, kulihat lori yang sudah penuh bergerak pelan. Seperti ular raksasa ia menuju jalan utama, lalu ke arah kota. Mungkin ke arah pabrik gula Maduksimo, nun jauh di sana.
Tiba-tiba kakek sudah dihadapanku. Ditangannya tergenggam sapu yang dibuat dari sabut kelapa. Sabut itu dipukul-pukul kakek dengan palu yang terbuat dari kayu jati. “le, golekno batu batere. Meh tak nggo nyengkelit sapu” pinta kakek kepadaku. “ngggih mbah” jawabku. aku tak pernah bisa membantah kakekku ini. Tadi dibawah langgar kulihat dua batu batere bekas radio yang sepertinya dibuang oleh bapak.
Kuangsurkan dua batere bekas itu kepada kakek. Lalu oleh kakek batere itu dikelupas diambil kulit luarnya yang berupa logam. Logam itu yang dipakai sebagai gagang sapu. Lalu garannya menggunakan kayu yang diserut halus. Dilakukan sendiri pula oleh kakek.
Memang kreatif kakekku.

Aku kembali asik mengamati lori dari kejauhan, sambil tak henti-henti mulut ini menyesap manisnya tebu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar