17/02/13

Menaklukkan Gelap (cerita masa kecil)




Th 1980,
Kata bapak, aku harus ikut ibu,
Ya, Kakek dari ibu sekarang sendirian di Nglembu, desa kecil di ujung kabupaten Bantul. 
Setelah Lik Siti menikah, kakek praktis tidak ada yang menemani. Lik Bas juga sudah pindah ke kota Bantul.
Semua anak kakek yang berjumlah tujuh orang sudah mentas semua.
Terakhir kemarin Lik Siti disunting lelaki hasil perjodohan antar keluarga.
Ibu, sebagai anak perempuan tertua, akhirnya yang memilih mengalah, menemani kakek. Meninggalkan keluarga besarnya di Pujokusuman Jogjakarta, pindah ke Nglembu. Meninggalkan anak-anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Aku sendiri masih enol besar. Jadi nanti kalau ikut pindah aku akan masuk SD di Dusun Nglembu, Panjang Rejo Pundong Bantul.

Lalu, mulailah hidupku di dusun kecil itu. Yang listrik belum masuk ke dalamnya.
Satu-satunya yang terang benderang saat malam hanya rumah diujung kampung, milik pak Margiyono.yang memiliki mesin diesel. Saat malam minggu pemilik rumah itu berbagi lampu untuk lapangan bulu tangkis. Aku suka ikut nongkrong melihat bulu tangkis, skalian merasakan terangnya lampu listrik. Sebelum akhirnya kembali lagi ke rumah joglo besar milik kakek yang temaram diterangi lampu minyak.
Adaptasi kegelapan, itu yang pertama kali dilakukan. 
Saat di kota Jogja, kami sudah memasang listrik. Aku sudah terbiasa benderang saat malam. Lalu ketika di Nglembu, mata ini harus beradaptasi saat malam harus mengulang pelajaran sekolah. 
Dibawah redup cahaya lampu teplok, mengeja pelajaran membaca yang sesiang tadi diberikan di sekolah.
Tetapi gelap juga memberi keasyikan tersendiri. Kala malam aku suka iseng dengan Mamuk, kakakku membuat wayang-wayangan.
Berbekal kertas minyak yang kami jadikan layar, kami memainkan figur-figur yang dibuat sendiri sesuai imajinasi. Ada bentuk raksasa, ada bentuk pak lurah, ada orang-orang kebanyakan. Lalu figur itu di potong sesuai gambarnya. Setelah itu, dengan benang yang kami ikat di kaki meja, figur itu kami tempelkan. Setelah sebelumnya di depan kaki meja kami pasang kertas minyak. Asik sekali permainan ini. Awalnya hanya kami berdua, lalu anak-anak tetangga mulai berdatangan. Awalnya Pangat yang tinggal pas di depan rumah., Kemudian Domber dan  Jawadi kakak Domberpun bergabung.
Asik sekali.

Kalau bosan dengan wayang, kami bermain “sereng”
Kami akan menguliti jeruk bali, kemudian menekan kulit tersebut sehingga ada cairan yang kami sebut sereng. Sereng itu mengandung minyak yang kalau kena api akan menyala.
Seakan-akan gas yang membara keluar dari cerobong. kadang aku berimajinasi menjadi naga yang menyemburkan api dari mulutnya. atau raksasa rambut geni yang sedang menarikan angkara di kegelapan. sambil terbahak-bahak tertawa jahat.. "kwahahahaha"

Yang paling asik adalah saat main jethungan di belakang rumah saat bulan purnama. Saat cahaya bulan begitu menguasai desa kami. Anak-anak kecil berkumpul di teras, lalu pindah ke kebun belakang. Disana ada pohon mangga besar. Di tempat itulah permainan jethungan di mulai. Yang jadi akan menutup matanya di pokok pohon. Lalu yang lan akan lari.. bayangkan mencari lawan di kegelapan. Padahal kebun kakek lumayan luas. Pernah aku curang. Sembunyi di dalam rumah, lalu ketiduran. Esoknya aku di omelin anak-anak lain.

Kegelapan desa akhirnya menjadi sahabatku. Sahabat kami.
Kegelapan yang awalnya cukup menyiksa , lama-lama menjadi biasa.
Mengasikkan malahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar