03/06/13

Dari Centong menjadi Orang (itulah cara kami belajar)

Kemarin, saya memulai lagi belajar menggambar bersama anak-anak.
Ya, benar-benar masih anak,  bukan berstatus anak tetapi sudah remaja seperti yang selama ini saya suntuki di lapas anak dalam kelas komik curhat.

Pengalaman berhadapan dengan anak seumuran  SD sudah cukup lama.
Tahun 2002 saat di TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) dan menjadi bagian dari tim komponen A yang di dalamnya termasuk pendampingan pendidikan sekolah, kami masuk ke desa Tanjung Kasri, sebuah kampung di dalam wilayah zonasi dimana saya mengajar anak-anak menggambar/ berkreativitas  berbasis material yang ada di sekitarnya.
Kemudian saat gempa Jogja tahun 2006, saya juga sempat beberapa kali menemani anak-anak, melakukan aktivitas menggambar sebagai bagian dari upaya pemulihan trauma.
Lalu di Porong Sidoarjo tahun 2008 saya masuk  SD tempat pengungsian anak-anak korban lumpur Lapindo yang tinggal di Pasar Baru Porong. Saya mengajak anak-anak menggambar sambil memetakan ingatan mereka tentang kampung halaman yang hilang ditelan amuk lumpur Lapindo.
Di RTJ sendiri tahun 2010 beberapa anak tetangga rumah dari kampung gedong sering datang ke markas kami ngerecokin kertas untuk berkreasi sesukanya. Mereka bahkan sempat membuat geng anak kreatif bernama KG (kampung gedong)

Lalu, saya berhadapan ( lagi) dengan anak-anak berumur 6 dan 8 tahun.
Anak teman  kakak ipar saya.
Berawal dari kakak ipar yang diminta temannya mencarikan guru les melukis, tetapi tidak mau gurunya  seperti yang mengajar  di sanggar.
Persepsi teman kakak ipar saya tentang sanggar rupanya negatif. Baginya sanggar memang mengajari anak-anak melukis dengan benar, tetapi kadang yang muncul justru kesegaraman, bukan orisinalitas dari masing-masing anak yang belajar di sanggar. Itu bisa di lihat saat lomba lukis. Karya anak sanggar akan cepat di identifikasi. Biasanya karya mereka bagus secara teknik. Menguasai penggunaan media berbasis air ataupun minyak/ pastel, atau menggabungkan kedua teknik dari dua basis bahan yang berbeda tersebut. Menggambar dengan gaya dekoratif yang penuh dan riuh warna-warni. Karena biasanya memang ditekankan oleh pengajar di sanggar bahwa kalau menggambar harus berani, tak boleh takut-takut dan harus penuh, sepenuh bidang gambar yang tersedia.
Secara artistik gambar anak sanggar terlihat jadi dan memenuhi kaidah artistik yang banyak di sepakati oleh juri lomba. Makanya langganan juara lomba ya anak sanggar, sesuai dengan kriteria yang biasanya muncul dan jadi prasyarat di dalam lomba lukis: ekpresi, keberanian, teknis dan terakhir kerapihan.

Tetapi, “kesempurnaan” karya anak sanggar sering mereduksi potensi anak-anak yang saat menyalurkan ekpresinya lewat gambar.
 Tidak sekedar mengejar kesempurnaan artistik, tetapi juga mengekpresikan ke otentikan goresan yang lahir dari dalam dirinya.
Saat bergabung di sanggar, sering terjadi goresan anak jadi seragam karena ada standarisasi nilai artistik yang muncul dari kepala sang pengajarnya. Itu yang kemudian menimbulkan keraguan di beberapa orang tua yang ingin anaknya belajar melukis tapi tidak terekspresi karena obsesi pengajar sanggar yang terlalu bersemangat mengejar teknik yang harus dikuasai anak-anak, tetapi kadang abai  potensi terdalam dari anak terkait kemampuannya menggores dan mengkepresikan imajinasinya.

Itu juga yang kemudian menjadi tantangan saya saat mendampingi dua orang anak, putra-putri dari kawan kakak ipar saya, dalam aktifitas menyalurkan daya kreativitasnya lewat seni rupa.
saya kemudian  mengadaptasi metode yang selama ini saya terapkan di lapas anak. Yang saya “ajarkan” adalah metode berkreativitas yang  menyenangkan dan memudahkan.
Harus senang terlebih dahulu saat akan berkreativitas menggambar.

Untuk itu bisa jadi saat akan menggambar, terlebih dahulu yang dilakukan adalah ngobrol, nyanyi atau bercerita. Cerita yang saya sampaikan biasanya terkait dengan apa yang akan di gambar. Misalnya saya akan bercerita tentang hewan, saat nantinya kita akan bersama-sama menggambar hewan. Atau bercerita tentang orang saat nantinya kita akan menggambar figur-figur orang.
Setelah itu, saya akan mencontohkan teknik paling mudah dan dekat dengan keseharian anak-anak.
Saat menggambar orang, anak-anak bisa mengambil bentuk dasar dari apa yang mereka temui seharian, misalnya centong. Bentuk dasar centong akan dikembangkan menjadi figur manusia.

Atau saat akan menggambar hewan, bentuk dasar abjad bisa dipakai untuk menggambar hewan. Sekalian juga buat yang belum bisa membaca atau menulis, metode itu cukup membantu anak-anak untuk mengenal huruf dan abjad.

Saat nanti belajar mengenal warnapun, saya akan mengajak anak bermain-main terlebih dahulu. Misalnya bermain busa sabun. Di dalam busa sabun akan terlihat warna-warna mirip pelangi yang bisa menjadi inspirasi saat akan menorehkan warna di subjek yang sudah digambar.

Beberapa metode diatas adalah sebagian dari banyak metode lainnya yang saya pakai saat mendampingi anak-anak berkreasi lewat seni rupa, yang diharapkan menjadi pembeda dengan apa yang di dapat saat anak-anak belajar di  sanggar.
 Dari pertemuan awal kemarin, terlihat si Abdan, nama anak yang saya dampingi, cukup antusias, menggambar orang yang terasa jadi mudah karena diawali dari menggambar centong. Sementara Aisyah belum seantusias kakaknya.

Smoga di pertemuan berikutnya, ditambah beberapa anak yang akan menyusul bergabung belajar menggambar bersama, kelas kami akan lebih semarak...
Amin...

[@seblat] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar