16/09/13

Mama Punk


Tiba-tiba saja perempuan itu bercerita.

Mungkin karena pengaruh alkohol yang sama-sama kami minum.
Atau karena dia sudah merasa akrab denganku.

Yah, perempuan itu menginap di rumahku, yang akhir-akhir ini memang menajadi "jujugan" beberapa “pelintas dunia” yang sedang menghabiskan waktu di Indonesia.
Bule-bule penggelandang itu.

Beberapa tegukan lagi, lalu ia mulai bercerita tentang asal usulnya. Tentang masa kecil dan remajanya. Sementara di samping ada beberapa teman yang juga saling bercerita dengan tema berbeda. Ajaib juga, kita bisa fokus ngobrol dengan tema masing-masing dengan suara keras, karena pengaruh alkohol.

Perempuan itu memutuskan untuk menjadi punk dengan segala ideologinya sejak umur 15 tahun. Lalu ia membuat tatto pertamanya. Saya lupa gambarnya, tapi kalau tidak salah sebuah logo dari band punk yang cukup sohor di Amerika, negara asalnya.

Awalnya sang bunda tidak setuju, tetapi karena argumennya bisa diterima nalar sang bunda, dia diperbolehkan menentukan apa saja yang menjadi pilihannya.

Bunda si perempuan itu penganut kristen yang taat. Itu perlu menjadi catatan.

Pada umur 16 tahun si perempuan ini sudah masuk universitas, program akselerasi diambilnya ketika SMA, bisa dipastikan ia bukan murid bodoh kan?

Sejak masuk kampus ia semakin bebas menentukan pilihannya.

Saat berumur 17 tahun ia hamil.

Ia memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya. Dengan resiko akan di adopsikan.
Karena ia sadar diri, belum mampu merawat dan memberi kesejahteraan terhadap bayi yang dilahirkannya.
Kami sama-sama teringat film Juno. Tepatnya aku yang mengingatkannya.
Dia tertawa “Ya, aku suka film itu. Menyentuh hati” katanya dengan sedikit berkaca-kaca.

Lalu ia melanjutkan cerita.
Bayi yang dilahirkan kemudian di adopsi oleh pasangan yang memang sudah divonis dokter tidak bisa punya anak. Keluarga berada pastinya.
Tetapi ia diberi hak memberi nama, meski keluarga itu juga memberi nama.
Jadi, si bocah punya tiga nama berbeda.
Satu dari si perempuan ini, satu dari orangtua yang mengadopsinya, satu lagi dari neneknya. Seru juga.

di Amerika, bayi adopsi sejak dini sudah diberi tahu kalau ia adalah anak angkat, jadi tak ada problem psikologi ketika besar. Itu tidak menjadi masalah besar terhadap si bayi. Kasih sayang dari orang tua angkat tetap terasa sehangat orang tua sedarahnya. Si perempuan itupun tidak dihalang-halangi bertemu anaknya. Tetapi, si anak akan memanggil nama ke ibu kandungnya, lalu memanggil mama dan papa ke orangtua yang mengadopsinya.

Informasi baru dan menarik yang kudapat malam ini.
Amerika memang telah mapan dalam banyak hal.

Lalu cerita berlanjut, perempuan itu memilih melanglang dunia setelah lulus dari kuliahnya. Sambil sesekali bekerja untuk “setoran” ke anak kandungnya yang mulai remaja. Itu pun diperbolehkan oleh keluarga angkatnya. Yah, sekedar mengajak makan berdua lalu membelikan baju dan hadiah kecil.

Saat ini jagoannya sudah berumur 14 tahun, remaja lelaki yang tampan.
Yang sewaktu-waktu memanggil namanya lewat telpon akan menjadi prioritasnya. Saat ia di sisi dunia yang jauh dari amerika pun, kalau sang anak bilang kangen, ia akan berusaha pulang. Namanya juga ibu. 

Oh ya, perempuan ini skarang sudah memenuhi tubuhnya dengan macam-macam tatto. Setiap singgah di suatu negara, pasti ia mencari artis tatto untuk menambah gambar di tubuhnya.
Anaknya  pernah takut dengan salah satu tatto di tubuhnya. Tetapi rasa takut itu disembunyikan. Si perempuan lalu menjelaskan makna tatto yang membuat takut anaknya. Semua tatto di tubuh perempuan itu dijelaskan detail kepada anaknya saat mereka bertemu. Aku membayangkan serunya proses dialog mereka.

Sampai suatu saat, si anak bilang dengan mantap “Hey, aku sudah tidak takut dengan tattomu!!”
Perempuan ini kembali terlihat berkaca-kaca saat menceritakan hal diatas.

lalu kami minum lagi, sampai bir dan intisari yang ada tandas.

Masih banyak cerita lainnya yang menarik.
Soal interaksi si perempuan ini dengan mamanya.
Soal betapa kolot sang mama, tetapi tetap bisa menerima apapun pilihan anaknya.
Dari pilihan religi/agama Sampai pilihan orientasi seksual yang berkembang sesuai pengalaman psikologisnya.  
Ya, perempuan ini memilih tidak beragama, yang pasti membuat sang mama yang penganut kristen kolot (tidak tahu, seperti apa kristen kolot itu :P) tentunya terpukul, tetapi tetap bisa menerima pilihan anaknya.

Di bagian cerita ini, mendadak aku jadi teringat lagu  John Lennon “Imagine”.


Imagine  there's no heaven
Bayangkanlah tak ada surga


It's easy if you try
Mudah jika kau mau berusaha

No hell below us
Tak ada neraka di bawah kita

Above us only sky
Di atas kita hanya ada langit

Imagine all the people
Bayangkanlah semua orang

Living for today...
Hidup hanya hari ini...

Imagine  there's no countries
Bayangkanlah tak ada negara

It isnt hard to do
Tidak sulit melakukannya

Nothing to kill or die for
Tak ada alasan untuk membunuh dan terbunuh

No religion too
Juga tak ada agama

Imagine all the people
Bayangkan semua orang

Living life in peace...
Menjalani hidup dalam damai...







depok 17 september 2013

lirik lagu ngambil dari :
http://terjemah-lirik-lagu-barat.blogspot.com/2011/10/imagine-john-lennon.html

2 komentar:

  1. Coba beliaunya suruh merasaken CINTA mbut..CIu faNTA..ditanggung njengkeng..

    BalasHapus
  2. kelingan jaman KKN nang banjarnegara.. itu buat jamuan suci di tengah sawah.. cinta=ciu fanta :))

    BalasHapus