22/10/13

Dari gerobag curhat, menjadi gerobag protes! Lalu gerobag ruwat



Seri  kedua workshop bedah gerobag yang merupakan rangkaian pameran seni rupa luar ruang, Biennale seni rupa Jakarta semakin seru dengan cerita-cerita yang muncul saat proses workshop.
Interaksi dengan para penarik gerobag, pemilik lapak, juga masyarakat yang menyaksikan menyisakan cerita yang sayang kalau tidak di catat.

Di kedoya, karena jalan masuk kami adalah warga yang sudah menjadi aktifis, yaitu mbak Yati, kami tidak kesulitan menjelaskan apa yang akan kami perbuat.
Mbak Yati adalah korban gusuran dari wilayah Cengkareng yang  terdampar di lapak Kedoya.
Lewat mbak Yati pula kami mendapatkan gerobag-gerobag yang siap lukis, bahkan menemukan bakat-bakat terpendam yang ternyata ada  di dalam lapak. Salah satunya sebut aja Si mamang, adik dari Ibu Mamah, kawan karib mbak Yati dari sejak di Cengkareng. Mereka juga seperjuangan saat melawan penggusuran, bahkan sempat tinggal hampir setahun  di  Komnas HAM.

Si Mamang awalnya terlihat malu saat kami menggambar gerobag di taman Kedoya. Karena gerobagnya termasuk yang ikut di gambari, akhirnya si Mamang turun tangan juga. Apalagi melihat kami kewalahan menaklukkan empat gerobag yang kami keroyok berempat.
Si mamang lalu beraksi. Figur yang suka digambarnya ternyata adalah tokoh kartun. Yang disukainya adalah Donald bebek. Ahayy.. dengan mencontoh sebuah sepanduk warung mie ayam yang emmajang kartun Donald, si Mamang bergerak cepat. Tangannya menari membenuk figur Donald dengan cepat lalu mewarnainya.
Saya sendiri di sampingnyamendapat “orderan” dari Bang Aji, pemilik gerobag untuk menggambar ondel-ondel. Lagi-lagi kena ondel-ondel saya. Sebelumnya di saung manggar juga ada yang minta ondel-ondel.

Tetapi, lama-lama Bang Aji mulai berani rikues. Beliau minta gerobagnya bertuliskan protes. “Jakarta Keras coy!” demikian awal permintaannya. Lalu di susul kalimat panjang yang harus saya catat, biar tidak salah. Saya minta Santo untuk mencatat.

 “ Aye anak betawi. Aye korban gusuran. Daripada nganggur lebih baik mulung. Jakarta keras Coy!”

Demikian rikues  kalimat dari Bang Aji yang kan dituliskan di badan gerobagnya.
Lalu Kalimat protes lainnya meluncur. Terutama di hari kedua workshop gerobag di Duri Kepa.
Ada satu gerobag yang menitip tulisam “Hukum Mati Koruptor!”
“Warga negara Bukan Angka2!”
Gerobag curhat kemudian menjadi gerobag protes.

Meski ada juga yang pesan kalimat penyemangat semisal “Kerja Keras Siang malam”

Yang beda adalah pesanan Mas Pur, salah satu pemilik  lapak.
Karena baru saja  mengalami kecelakaan, Mas Pur pesan dibuatkan gambar wayang. “Skalian di ruwat”, katanya. Walah, ini lagi ada gerobag ruwatan.
Semua coba dipenuhi. Untung di saat kami kewalahan karena tenaga ilustrator terbatas, ada tenaga bantuan menggambar datang. Si mamang muncul membantu kami. Dibantu David dan Rizki, bahkan bu Mamah dan Mbak yati ikut rame-rame menggambar.

Keterlibatan warga untuk ikut menggambar itulah yang kami harapkan. Kalau bisa sih semua digambar oleh warga sendiri.
Kami tinggal semacam supervisi, sambil membenarkan sana-sini agar terlihat tetap apik dan warna-warni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar