23/10/13

Dongeng Parasu



Awalnya tidak sengaja.
Aku iseng mengumpulkan gambar wayang untuk stok saat workshop bedah gerobag, kalau nanti ada yang pesan gambar wayang lagi.

Maka aku mulai mencoret-coret gambar wayang yang sudah diunduh di dalam buku notes yang selalu aku bawa kemana saja.
Yang aku pilih tentunya yang menarik figurnya, tanpa tahu maknanya.
Tahu-tahu saja aku tertarik dengan sesosok wayang bernama Rama Parasu. Sosoknya hitam dengan rambut mohawk bersenjata kampak.

Setelah selesai digambar, lalu di scan dan diposting di laman FB. Biasa, berbagi ke teman, siapa tahu ada komentar bermanfaat.
Sambil mengomentari tampilan si Parasu yang eksentrik. Banyak komentar balik yang menarik.
 Mas Uzie mengomentari pilihan stilasi dalam wayang dikaitkan dengan syariat Sunan Kalijogo. Kami saling  berbalas komentar. Seperti biasa, ada yang sekedar acung jempol.

Lalu ada komentar masuk dari Tika.
Tika, teman istriku yang merupakan anak seorang dalang itu menjelaskan siapa Parasu.

Menurut cerita  Tika, Ramaparasu itu manusia yg menjadi dewa.
Dia anak seorang begawan. Suka menyepi di hutan, bertapa hingga saktinya.
Hidupnya jujur dan sederhana, bocah rimba gitu deh.

Suatu hari dia dipanggil bapaknya dan ditanya... “Parasu Parasu. Kamu manusia yg adil dan bijaksana, yg bisa memutuskan suatu perkara yg rumit, jawablah anakku, jika ada istri yg berselingkuh berkali kali dg tidak menghormati keluarganya, apa hukumnya”.
Parasu menjawab, “Perempuan itu tidak bisa menjaga kehormatannya sendiri, lebih baik dia mati”.

Bapaknya bertanya, ”maukah kamu membunuh wanita itu?”

Parasu menjawab, “jika bapak bisa mengabulkan satu permintaanku, akan kubunuh perempuan itu”.

Bapaknya bersabda, “asal bukan bulan dan bintang yang kau minta...”
Tika menghentikan ceritanya, lalu bertanya. “mau tau klanjutannya gak Mas”.
“Mauuu!!” aku menjawab penuh semangat.

“Parasu ini bocah yg nggak mau tunduk dg aturan istana atau masyarakat yg hipokrit, rebelion gitu deh ceritanya.
Kulanjutin ya” Kata Tika.
“Lalu bapak begawan ini berkata. Perempuan itu adalah IBUMU, Parasu....

Dan bumi pun gelap dimata Parasu. Hancur hatinya. "kamu harus lihat pagelaran wayangnya ni mas, pasti nangis....." kata Tika. Kemudian ia kembali melanjutkan cerita.
“Baik bapak, seperti janjiku, akan kubunuh ibuku sendiri, tapi ingatlah bapak, akan sabdamu..."

"Lalu Parasu menemui ibunya.
 Menangislah Parasu dipangkuan ibundanya.
 Dikatakan sejujurnya niatan mendatangi ibunya.
Sang ibu berkata... “Anakku, benar itu semua, ayahmu tidak dapat mengadiliku, lebih baik aku mati ditangan anakku sendiri, tapi nak...
Maafkan aku ibumu ini, yg sungguh berdosa, bunuhlah aku dan sucikanlah aku di mata air nirwana... YA IBU..."

"Setelah dibunuh ibunya digendong berlari sambil menangis.
Parasu membawa jasad ibunya berkeliling negri.
Sesampainya di ayahanda,.. Parasu berkata, “bapak, seperti pintamu, kubunuh ibuku, sekarang kutagih janjimu, kau hidupkan ibuku dan peristri dia lagi, dan cintailah dia sepenuh hatimu....”

Ayahanda menjawab... “oh Parasu, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu meskipun aku begawan sakti”.
Tika berhenti sejenak. Lalu melanjutkan cerita,” Parasu ini kontroversial banget, beberapa dalang memilih untuk tidak melakonkannya, atau mengganti alur cerita kalau parasu tidak membunuh ibunya. Karena wayang itu kan ada unsur mengajar penonton, ada pesan yg mndalam.
Jadi masak anak membunuh ibunya sndiri...
oya itu ceritane blm kelar lho mas”.

“Aku barusan gugling Tik, nemu versi cerita yang tidak dibunuh” jawabku.

“Yang asli dibunuh Mas. Tapi karena terlalu KERAS ceritanya jadi dilunakkan.
"Oke,  cerita versiku berlanjut..." kata Tika.
"Karena kecewa sang begawan tidak bisa menghidupkan Ibundanya, Parasu membunuh semua kesatria di istana tempat raja Arjuna Sasrabahu berada, term
asuk sang Raja yg merupakan titisan Dewa wisnu itupun dikalahkannya."
"Tepat saat senjata Parasu mengenai Sasrabahu, sang Wisnu 'oncat', keluar dari tubuhnya...
Parasu mengejar, mengembara smpai jaman Ramayana, dan bertemu Rama wijaya.
 Parasu menantang semua kestria yg dia temui."
"Beberapa versi mengatakan dia terbunuh oleh Hanoman."
"Beberapa versi oleh Rama atau Krisna, tidak ada yg tau pasti.
Tapi ada cukilan cerita di India yg mengatakan dia menjadi dewa, saksi perjalanan manusia, dia tidak bisa mati dan harus mengembara sampai dunia ini berakhir.
Bersama kesedihannya”. Tika memungkasi ceritanya.
Aku tercenung. Luar biasa cerita ini.

Ini berkah “kepo” saat mencari bahan untuk workshop “gerobag curhat” yang menjadi bagian dari kerja seni luar ruang helatan Biennale Jakarta 20013, dimana aku  menjadi salah satu seniman yang diundang.
Aku jadi belajar banyak. Juga jadi tahu kisah Parasu yang menggetarkan ini.

Yang pasti, aku” jatuh cinta” dengan sosok Parasu, versi dongengan Tika tentu saja.

2 komentar: