29/05/14

Dongeng Pendampingan, Memberdayakan atau Memperdayakan?

Ada dua  karakter pendampingan yang selama ini saya tahu:
-Mendampingi untuk memobilisasi
-Mendampingi untuk memberdayakan

Pertama, Mendampingi untuk memobilisasi 
biasanya dilakukan dengan cara, pendamping/aktivis memberi asupan informasi kenapa warga sampai menjadi korban. Lalu apa saja  masalah yang merugikan korban. Masalah  muncul dan disebabkan oleh siapa.

Dari informasi itu korban akan jadi lebih tahu dan  sadar kondisinya, lalu bangkit semangat untuk melawan. Setelah kesadaran melawan bangkit, korban akan dikerahkan untuk melawan oleh pendamping/Aktivis.

Di titik ini, korban berfungsi sebagai obyek yang diarahkan oleh pendamping/Aktivis.
Korban digerakkan tanpa sepenuhnya sadar dengan aksi yang diakukannya. Korban bisa jadi sadar dengan niat dan aasan untuk melawan, tetapi mereka tidak paham dengan bagaimana caranya  melakukan perlawanan ketika harus dilakukan sendiri tanpa bantuan pendamping.
Mereka akhirnya  menjadi pion-pion  yang digerakkan oleh pendamping. 
Tingkat ketergantungan korban atas pendamping sangat tinggi.

Saat pendampingan selesai, biasanya selesai juga perlawanan dari para korban.

Yang kedua, pendampingan yang memberdayakan
Posisinya, pendamping/ aktivis akan menjelaskan, kenapa warga menjadi korban, lalu mengupayakan bagaimana caranya melawannya.

Pendamping akan mengajarkan strategi perlawanan. Mulai dari strategi menghimpun sesama korban, strategi komunikasi menghadapi musuh, strategi menginformasikan kondisi korban secara mandiri lewat berbagai media, baik media sosial atau cetak. Strategi mengangkat tema & cara perlawanan,
Juga strategi menggalang dana untuk perlawanan.

Di posisi ini pendamping akan berada di belakang. Yang bergerak adalah warga sendiri.
Warga korban menjadi mandiri untuk pada waktunya akan bergerak tanpa perlu pendamping dari luar. 
Hasil akhir. Korban yang bergerak melawan.


Saya memilih yang kedua. 

Kenapa saya menulis ini?
Yah, ini sebagai jawaban untuk diskusi di FB saya barusan dengan Dodok Jogja, yang mendampingi Korban Lapindo di Porong, Sidoarjo.
Setidaknya, "otot-ototan" di FB tidak sia-sia, karena saya akhirnya harus berpikir untuk membuat tulisan di atas
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar