18/08/14

sudah saatnya super hero mati

Diawali iseng di lapas anak Tangerang delapan tahun yang lalu, tahun 2006 bersama kawan-kawan sahabat andik (sahabat anak didik, sebutan untuk anak penghuni penjara) PKBI. 

Mengajak para penghuni penjara iseng corat-coret diatas kertas bekas, membuat gambar komik curhat. 
kemudian gambar itu lagi-lagi iseng dipamerkan, Kemudian iseng dikumpulkan lalu dijadikan buku. lalu keterusan mencetaknya sampai ada lima buku kompilasi, dari yg sebagai katalog pameran sampai buku beneran. 

Loncat ke lapas anak lain, bahkan sampai mampir di Palembang.menggambar komik lagi, jadi buku kompilasi komik lagi.

Diselingi cerita anak-anak yang sempat mampir di rumah, sesaat setelah bebas dari lapas karena banyak faktor. 
Ada yang tak tahu jalan pulang, ada yang masih bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.

Sampai terbentuk komunitas RTJ (rumah tanpa jendela) pada tahun 2007 yang terinspirasi dari rumah kontrakan yang nir jendela. inisiatif membuat komunitas ini muncul dari kawan-kawan sendiri. Ya, kami saling menginspirasi.

Tak sekedar singgah, lagi-lagi iseng membuat workshop komik curhat keliling dari sekolah ke sekolah untuk kampanye "jangan sampai masuk bui" yang di fasilitasi oleh beberapa anak lulusan penjara anggota RTJ, yang sebagian sekarang sudah berumah tangga, dan hidup selayaknya manusia pada umumnya.

Juga kerja seni bersama, dalam satu tim kerja RTJ. 
Menghembuskan energi bahwa seni itu bukan sekedar kerja individu, tetapi juga bisa dikerjakan secara berkelompok lalu menginspirasi masyarakat lain untuk bersama-sama menghasilkan karya kreatif.

Seni untuk seni harusnya sudah basi. Seni adalah gerakan bersama untuk kebaikan dan kebermanfaatan.

Lewat komik kami tak hendak melahirkan hero macam superman atau iron man, bahkan si buta dari gua hantu.

Lewat komik kami berkeluh kesah membuang energi negatif, lalu mencari solusi. tidak menunggu pahlawan yang akan membereskan segalanya, karena itu pembodohan.

Komik selain media curhat juga menjadi media edukasi yang mudah dan menyenangkan.
Saat ini sedang coba  di buktikan kala ada tawaran untuk meng-aplikasikan komik curhat sebagai media belajar konservasi yang memudahkan&menyenangkan. 

Kesempatan itu muncul di bumi sumatera, di jambi tepatnya.
Disini kami berkumpul lagi, membentuk tim kecil bernama kawan imau, yang  berikhtiarmengkampanyekan penyelamatan harimau lewat sekolah.
Sekolah yang berbatasandengan kawasan hutan tepatnya.

Sampai kemudian tim kecil ini blusukan di sekolah-sekolah yang  berbatasan dengan kawasan hutan. 
Mengajak adik-adik siswa SMP curhat lewat komik. Bercerita lalu menuliskan cerita keseharian mereka yang tinggal berbatasan dengan kawasan hutan, yang pasti tak jauh darihabitat si raja hutan.

Setelah komik dan tulisan terkumpul, lalu dibukukan dan disebarkan ke kawan yang lain, yang semoga tergugah untuk sama-sama bergerak menyelamatkan satwa langka yangterancam habitatnya ini (Harimau sumatera)

Sekali lagi, kita tak bisa menunggu super hero datang lalu  menyelamatkan, Karena itu pembodohan. 
Kerja bersama yang jadi solusinya. Komik menjadi alatnya.

Sedari kecil harus ditanamkan kesadaran untuk bekerja sama, bukanny asik dicekoki cerita-cerita fantasitentang pahlawan penyelamat bumi.

Komik akan lebih bermanfaat saat dijadikan sebagai media untuk penyadaran, bukan dengan mereka-reka pahlawan kesiangan.
Setidaknya itu pendapat yang menjadi semangat kami

Sudah saatnya superhero mati. Diganti kerja keras bersama-sama yang muncul dari hati.


(jambi | agustus | 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar