24/10/14

FURY

Norman, tentara muda yang awalnya adalah seorang jurnalis itu terlihat kuyu.
Penugasan sebagai asisten pengendali tank adalah neraka baru baginya.
Bergabung dengan para tentara Amerika yang sudah gila dibawah kendali Don Collier membuatnya harus menyesuaikan diri dalam banyak hal. Tentara yang sudah menjadi segerombolan makhluk buas demi kemenangan dan keharusan mempertahankan nyawa ditengah perang dunia ke 2 melawan Jerman.

April 1945, tentara sekutu merengsek Nazi Jerman di negaranya sendiri. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi tentara  SS adalah geromboan serigala tangguh yang tak mudah dikalahkan. Persenjataan Jerman juga yang terbaik di jamannya.
Maka, perjuangan gerombolan Koboi Amerika ini menjadi terlihat menarik dan dramatis.

Bersama rekan lainnya, Boyd  Swan sang  penembak jitu, Grady  Travis sang montir dan Trini Garcia sebagai supir tank, mereka bahu membahu berbaris diantara pasukan tank Sherman buatan Amerika lainnya. Mencoba menghadang Tank-Tank Jerman yang nyata-nyata lebih canggih dan tangguh.

Selain soal teknologi pembunuh, perang juga mengajarkan bagaimana membunuh perasaan. Norman yang masih menyisakan banyak tempat untuk rasa iba, dihadapkan pilihan sulit saat melihat segerombolan bocah jerman yang ternyata sudah di setting  menjadi pembunuh berdarah dingin. Keterlambatannya menembak bocah-bocah itu mengakibatkan kerugian di kelompoknya. Sebuah Tank di ledakkan oleh bocah-bocah itu. Karuan saja membuat Serman menjadi bulan-bulanan komandannya, Don Collier, serta rekan lainnya.
Mental Norman yang dianggap belum tangguh dan buas, dibentur-benturkan. Seorang tentara SS menjadi tumbalnya. Don Collier memaksa Norman menembak tentara Jerman dengan sebuah pistol. Norman melawan. Terjadi pergumulan sengit, sampai akhirnya Norman kalah dan tangannya dipaksakan meletuskan senjata. Pembunuhan pertama telah dilakukannya.
Dilanjutkan pembunuhan-pembunuhan berikutnya dalam drama peperangan nan sadis, dimana darah dan tubuh manusia berceceran di segala tempat.
Membunuh dan membunuh, jangan sisakan belas kasihan.
Manusia menjadi mesin pembunuh paling sempurna.
Manusia berjenis kelamin laki-laki tentu saja, karena dalam perang, perempuan hanya pajangan, kalau tidak ya menjadi korban.

Saat pasukan Norman sampai di sebuah kota kecil, tentara-tentara buas itu melampiaskan nafsunya, apalagi kalau tidak kepada perempuan.
Norman menjadi pengecualian, ia melibatkan perasaan.
Saat bertemu Emma dan saudaranya di sebuah rumah yang terlihat mewah, Norman jatuh cinta lalu bersenggama dengan Emma. Mereka bercinta dengan sepenuh hati. Melahirkan cinta yang haram hukumnya untuk tentara yangs edang menjadi pesin pembunuh.
Itu terbukti, sebuah serangan udara menghancurkan cinta Norman terhadap Emma.
Saat rumah Emma hancur menjadi puing akibat rudal dan bombardir pesawat udara, Emma terlihat tanpa nyawa diantara puing rumahnya.
Karuan Norman histeris, menangisi kehilangan dan sisa-sisa rasa kemanusiaannya. Dengan kasar Grady menyeretnya sambil mengumpat-umpat.. “ini perang bung!!”

Lalu mereka berjibaku lagi di dalam Tank untuk menyelesaikan misinya, mengamankan suatu daerah dimana tentara US akan masuk.

Perang berlanjut, kematian  ditebar semena-mena.  Itulah sejarah manusia. Seperti ujar Don Collier kepada Norman, “Ideologi penuh kedamaian, sejarah penuh dengan peperangan”, dan pembantaian tentu saja.

Perang pun membutuhkan pembenaran. Seperti ujar-ujar sang pengkotbah Boyd Swan, bahwa ini perang suci untuk kemanusiaan. Bahwa tuhan selalu  bersama orang beriman, bahwa dan bahwa lainnya merujuk pada alkitab yang seperti sudah tertulis di kepalanya. Meski sering di cemooh Don dan Grady.
Perang bisa jadi membunuh “Tuhan’ karena mereka seakan menjadi “tuhan” untuk dirinya sendiri. Kuasa hidup dan  mati ada ditangan mereka.
Urusannya adalah lengah atau waspada. Juga keberanian untuk menjadi buas dan  bernyali keras. Lalu mereka jibaku sampai akhir. Sampai akhirnya dihancurkan oeh sebatalyon tentara SS yang mereka jumpai.
Menyisakan Norman yang secara ajaib bisa selamat. Namanya juga film.

Demikian dongengan Hollywood dalam “Fury”
Film yang seolah meneguhkan dominasi Amerika sebagai koboi dunia, juga sebuah upaya untuk membuat propaganda bahwa mereka benar-benar perkasa.
Kalau  dalam kenyataannya tank-tank Sherman tak berdaya menghadapi sang “harimau” Jerman, itu bisa dimanipulasi.

Digambarkan dengan teknologi animasi terkini,  betapa si “Fury” Tank penuh amarah yang dikendarai oleh Don dan kawan-kawan jibaku menghancurkan tank-tank Tiger milik Jerman yang lebih canggih.
Agar terlihat logis, dikesankan  bahwa dalam perang tidak cukup kecanggihan teknologi, tetapi “siapa manusia dibalik senjata”.
 Don yang piawai mampu mengendalikan Tanknya yang kalah hebat menjadi lebih liat dan mampu mengkocar-kacirkan tank Jerman.
Tentara Jermanpun terlihat dungu tanpa strategi lalu jadi bulan-bulanan dengan bodohnya.

Secara keseluruhan film ini menghibur. Keinginan untuk menggambarkan kemarahan terlihat berhasil. Alur penggambaran Norman, dari seorang yang lemah lembut menjadi prajurit buas berhasil memancing emosi, terutama emosi saya sebagai penonton.

Sambil berjalan keluar dari bisokop tiba-tiba saya mengguman, “Di dalam perang, amarah  adalah  amunisi sesungguhnya”






.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar