05/11/14

Karena kami seperti kebanyakan mereka

Pagi yang menderu.
Orang-orang bergerak cepat, aku dan kamu di antara mereka. 
Berdesakan antri memarkir kendaraan, lalu bergegas ke peron antri masuk stasiun. 
Kemudian berpisah, kamu yang lebih sengsara dan berat perjuangannya karena keretamu menuju Jakarta.
Sedang aku, sementara ini aku bekerja di Bogor.
Saat jendela kereta tujuan Jakarta terlihat sudah terbuka, terbayang seperti apa di dalamnya, sumpek panas dan celaka.
Sedangkan arah Bogor sebaliknya. Selain sepi, ac kereta juga masih normal karena tak terserap riuhnya penumpang. Perjalanan bisa dilalui dengan melanjutkan tidur.

Ituah keseharian kami, seperti kebanyakan mereka, yang bertarung di angkutan massal demi menuju tempat mencari nafkah. Demi menyambung hidup di rantau yang memberi prasarat utama: Tak boleh cengeng.
Hidup di rantau keras bung. Telat bayar kontrakan bisa ditendang semena-mena.
Itu yang kemarin menimpa seorang kawan.
Ia tau-tau saja sudah ngejogrok di depan kontrakan. Hanya diam, sampai aku bertanya. Ternyata kamar kosnya  “di dodos” ama pengelola kontrakan, hanya gara-gara telat membayar rumah petak tiga hari. Tiga hari bayangkan. Betapa kejamnya rantau ini.
Padahal ia hampir setahun di kontrakan itu. Selama ini baik-baik saja. Entah, emak-emak yang hanya penjaga kontrakan itu (bukan pemiiknya) mendadak kejam melebihi Fir’aun bahkan Hitler. Mungkin dia sedang kena sawan, atau lagi datang bulan (tetapi ga mungkin juga, udah 45 tahun lebih umurnya, udah masanya menopouse).

Tapi itulah cerita hidup di rantau, kita tak bisa menerka secara cermat orang di sekitar kita, seperti saat di kampung. Yang kadang tetangga depan rumah adalah saudara sendiri, meski saat bagi waris juga bisa saling bacok karena meteran tanahnya tak sesuai kesepakatan.
Selama hidup masih bergelantungan dengan nafsu dunia, ya seperti itulah adanya.

Air hujan terasa menimpa kepalaku yang tak bertopi, juga lupa bawa payung. Sialan hujan turun.
Inilah istimewanya Bogor. Saat sebagian wilayah Bekasi melolong-lolong minta hujan dan tak turun juga (mungkin Bekasi memang planet lain :P) Bogor dengan santai dihujani sampai becek melenyek. Jalan kantor yang ada di komplek mahal pun sampai tergenang sebatas mata kaki, yang cukup DL juga kalau memakai sepatu bagus. Bakal “ngecembong” mirip kain pel.
Ya, namanya anak rantau, tidak boeh cengeng, terima saja.

Hidup ini keras. Sekeras aspal yang sedang kususuri menuju pulang. Kembali lagi menaiki CL/KRL. Tak berdesakan karena melawan arus. Ini surga kecil bagiku. Meski kadang perasaan ini tak sepenuhnya bisa gembira, membayangkan istriku di sana, dari stasiun Tanah Abang kadang dari Cawang sedang “cemet” berdesakan diantara orang-orang yang lebih besar dari fisiknya yang mungil meski tidak seupil. Yang  membuatku jatuh cinta dan memutuskan mengawininya.

“Jangan Cengeng Sayang”

(Pasti dijawab: “Gundulmu, kamu enak melawan arus.. lha aku!”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar