05/11/14

Ki



Awalnya aku merasa risi dipanggil dengan sebutan itu.
 Selain terasa "tua" mending langsung nama saja, kalau memang terlalu berjarak jika harus memanggilku dengan dik atau mas bahkan  pak.
“Ki” sapamu di setiap kesempatan kita bertemu. Di jalanan, di warung rokok, atau di warteg dimana kamu biasa nongkrong lama-lama mendengarkan lagu ciptaanmu yang kau nyanyikan dengan cengkok koes plus, yang sengaja kamu titip di warung-warung yang selama ini memanfaatkan jasamu sebagai "bank thitil" dan meminjamkan uang sebagai tambahan modal dengan bunga sesuai kesepakatan.
Sebuah model promosi baru menurutku. Meniru cara  musisi nasional yang makin harus kreatif memasarkan lagunya, lewat gerai ayam goreng atau mini market. Semua di terobos demi periuk tetap mengepul.

Aku juga suka mendengarkan ceritamu tentang negara-negara sebelum republik yang sudah eksis di nusantara. Tak kalah dengan dosen atau sejarawan, kamu akan mengoceh panjang lebar tentang sejarah Sunda Nusantara beserta runutan pewaris yang menurut ceritamu masih ada sejak kini.

Yang paling menarik saat kau cecarkan cerita tentang kebun cabe yang kau buat di sembarang  tanah kosong yang kau temui. Cabe rawit kau tanam di tanah samping rumah yang gagal menjadi perumahan karena ijinnya tidak turun. Tanah seluas seribu meter yang rencananya mau dibuat jadi sekitar 20 klaster itupun terbengkalai. Ditumbuhi alang-alang dan cabaimu. Ya, kamu memanfaatkan tahan itu menanam sekitar 50 pohon cabai rawit yang buahnya terlihat gemuk karena kau bungkus dengan plastik satu persatu. Betapa rajinnya, setiap buah dibungkus dengan plastik, yang menurutmu bisa mencegah lalat buah menyerang.

Aku jadi ingat anak-anak punk yang bersemangat hidup berdikari itu. Yang akhirnya putus asa lalu melata di jaanan ngamen sambil merem-merem karena matanya terlalu berat akibat alkohol atau pil murahan. Mereka harus belajar denganmu, yang sama sekali tidak tattoan dan beranting, juga tanpa boot.
Tapi semangat mandiri dan anarkimu  keren. Mengambi alih lahan tanpa berisik, tahu-tahu sudah membuat kebun tanaman dan panen. Kamu bercerita sehari bisa mendapat  75ribu dari menjual cabai. Keren kan...

Eh, tunggu dulu jadi apa hubungan tulisan ini dengan judul “ki” yang  bertengger diatas? Malah ngelantur kemana-mana, nyindir-nyindir anak punk pula..

Ya memang aku lagi pengen ngelantur aja sih. Soal hubungan Ki itu dengan kisanak atau kaki biarlah urusan kawanku.
Yang pasti sore terlalu cepat datangnya, jadi mari ngopi.. kreteknya jangan lupa


Depok sore-sore

Tidak ada komentar:

Posting Komentar