18/12/14

Ngrasani Jogja, ngrasani Kominis

Tiba-tiba saya ngebet pengen nulis tentang Jogja.
Ditengah cuaca Bogor yang sedang riuh rendah oleh petir dan angin ribut bercampur air hujan.
Ya, Jogja sebagai Kota kelahiran saya masih menyisakan banyak cinta di pojokan-pojokan hati yang rengat dan bulukan ini :P

Dipicu kejadian rusuh saat pemutaran film "senyap" kemarin di kampus ISI Jogja, juga di kampus UGM, dimana acara muter film yang diharapkan bakal menambah pengetahuan dan melahirkan diskusi bernas itu di rusuhi oleh geromboan orang terorganisir yang tetiba datang menghentikan kegiatan.
Gerombolan yang mengaku anti komunis itu tak memberi opsi dialog. Yang ada ya stop atau obrak-abrik.

Tradisi kekerasan di Jogja yang dilakukan oleh geromboan yang kemudian disebut ormas itu seperti jadi ritual yang berulang kapanpun para perusuh mau.
Ya meski biasanya ada penyebabnya. Biasanya merupakan respon wabil khusus terhadap aktifitas yang dianggap berbau komunis atau kegiatan agama minoritas yang dianggap "mengancam" mayoritas.

Pelakunya? Biasanya ya mereka yang berbau ormas agama mayoritas, atau ormas beraliran "anti komunis" yang bergabung dalam FAKI (Front Anti Komunis Indonesia) yang salah satu pentolannya adalah orang partai lama.

Siapa dibalik mereka? Tebak saja sendiri, biar  saya tak didakwa memfitnah.
Tapi biar tulisan ini lancar sampai titik akhir, saya sebut saja siapa dibalik itu sebagai Sidalang.
Sidalang pastinya cukup punya modal untuk "membeli" kekuatan ormas yang setiap saat akan jadi palu gada, atau palu THOR untuk menghajar siapapun yang dianggap musuh di  kota Jogja.
Tentu, kriteria musuh ya  sesuai apa yang Sidalang yakini, bahwa kota Jogja harus bebas dari musuh berujud faham yang oleh mereka dianggap tidak sesuai dengan Pancasila. Kalaupun cara yang dipakai lalu justru melanggar sila-sila dalam pancasila sendiri, itu tak penting bagi mereka.
Yang penting aktivitas yang dianggap menyimpang dan tidak pancasilais, serta membahayakan akidah sang mayoritas harus di tebas. Dihajar. sampai modar.
Lalu yang penting pemegang palu gada haruslah sesama sipil, yang kemudian diwakili oleh ormas-ormas yang bertebaran di Jogja.

Silakan gugling, kasus kekerasan oleh ormas di jogja, terhadap minoritas. Pasti banyak.
Rata-rata, kasus kekerasan tersebut  tak pernah sampai ke pengadian, karena selalu berhenti di meja penyidik polisi, dengan berbagai alasan.
"Aiss prek lah!" pokoknya.

Jogja dengan slogan "berhati nyaman" itu punya catatan khusus untuk setiap kenyamanan yang ingin di dapatkan para pendamba hidup damai nan tenteram.
Kalau ingin nyaman di jogja,selain harus sopan, jangan pecicilan (dimaanpun juga kali i:P), ya jangan bikin aktifitas yang akan dikategorikan "membahayakan" oleh Sidalang.
Apakah aktivitas itu? Salah satunya ya penyebaran faham yang menurut mereka berbau  komunis, yang entah mengapa seolah dipelihara menjadi hantu blau yang membahayakan dan mengerikan.

Kasus PKI makar seolah di balsem agar menjadi abadi. Jangan sampai di utak-utik pemahamannya, seperti apa yang sudah di propagandakan oleh orde baru, bahwa PKI itu jahat. Bahwa orang-orang PKI itu  memang Pantas dibinasakan. Bahwa PKI itu membahayakan agama. Bahwa PKI itu antek setan yang anti tuhan. Itu yang di gembar-gemborkan orba dan tak boleh di revisi pengertiannya.

Bahwa korban yang di PKI-kan itu terampas hak kemanusiaan dan ingin menuntut keadilan, adalah hil yang mustahal! (kata asmuni), karena PKI dan orang yang didakwa PKI adalah salah. makanya ga boleh protes. berani protes? "Pateni!" Link berita tentang kasus "pateni" silakan klik disini

Kasus yang akan digebuk oleh ormas, Selain komunis yang dianggap "membahayakan" Sidalang, juga membahayakan akidah kaum mayoritas yang entah kenapa, setiap saat orang-orang itu selalu saja merasa terancam keimanannya.
Aktivitas agama minoritas berbentuk doa bersama pun bisa jadi dianggap membahayakan, lalu harus di gebuk. Bisa dibaca di link ini.

Jogja berhati nyaman lalu terbaca menjadi Jogja berhenti nyaman. Entah sampai kapan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar