24/09/15

catatan sehabis nonton #02



”Tubuh manusia tidak dirancang untuk berfungsi pada ketinggian jelajah terbang pesawat jet. Tubuh kita akan mati, bukan kiasan. Tanpa keraguan, Everest adalah tempat paling berbahaya di dunia,” kata Rob Hall (Jason Clarke) pendiri  Adventure Consultants di awal film.

Diangkat dari buku "Into Thin Air" karya Jon Krakauer (jadi pengen baca bukunya) Everest menjadi film ke empat di bulan ini yang saya tonton bersama Nana.
Lumayan produktif nonton filmnya. :P

Awalnya saya berpikir Everest akan mirip dengan Vertical Limit, Penuh dengan adegan menegangkan dalam tensi yang tinggi. Ternyata beda. Ketegangan mulai terasa dari tengah film,
Everest yang disutradarai oleh Baltasar Kormakur lebih natural dalam menyusun ketegangan. Kormkur piawai membangun suasana lewat visual badai salju yang dinginnya terasa sampai ke penonton.

Berkisah tentang  Rob Hall (Jason Clarke) yang memandu pendakian menuju puncak Everest pada tahun 1996. Setting 90an terasa saat para pendaki di camp memutar lagu  Sheryl Crow, All i Wanna Do yang populer saat itu.

Kisah bergulir dari Camp hangat dengan orang-orang Adventure Consultants yang siap memandu pendaki menaklukkan Everest, dilanjutkan adegan pendakian di tebing curam bersalju dengan visualisasi yang sangat bagus.
Pengalaman Kormakur menyutradarai film-film dokumentasi alam liar terlihat di film ini.

Adegan menegangkan mulai di tengah film, saat para pendaki yang sudah sukses memuncaki Everest berjalan turun. Badai salju memporandakan semuanya.

Perjuangan manusia yang mendaki dengan ambisi masing-masing tergambar. Egoisme untuk bisa menaklukkan seringkali mengabaikan keselamatan diri sendiri.
Sang tukang pos Doug Hansen (John Hawkes) yang memaksa bisa sampai puncak dan "dituruti" Rob Hall padahal jam sudah lewat waktu aman. Ternyata kemudian mengancam nyawanya, juga Rob Hall, bahkan menjadi penyebab kematian dua orang itu. Juga naluri untuk selamat yang kemudian harus mengabaikan nyawa teman tergambar saat Anatoli Boukreev (Ingvar Eggert Sigurðsson)meninggalkan Beck Weathers dan Yasuko Namba yang dianggapnya tak akan tertolong.

Delapan nyawa meregang dalam ekspedisi ini, termasuk Rob Hall yang meninggalkan istrinya Jan Hall (Keira Knightley) yang sedang hamil. Dialog Rob dengan istrinya di ujung hidupnya lewat telepon satelit lumayan mengaduk emosi.

Selanjutnya silakan nonton sendiri :D

 @seblat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar