15/10/15

catatan sehabis nonton #04 -Sicario-

www.blackfilm.com
Juarez, kota kecil dimana bom dan mesiu adalah keniscayaan.

Anak-anak hanya berpaling sejenak saat rentetan tembakan terdengar, lalu asik lagi dengan aktifitasnya.
Juarez juga pusat kegelapan, tempat para bandit-bandit tenang di sarangnya.
Kartel narkotik mengendalikan peredaran dengan tangan yang menyentuh jauh, menjerat para aparat kejaksaan dan kepolisian.

Lalu muncul Alejandro.
Seperti malaikat dari dasar neraka ia menebar teror, menghalalkan segala cara yang dilindungi hukum. Di fasilitasi negara bahkan. Alejandro menjadi mesin yang bertarung tanpa tersentuh hukum.
Amunisi dendamnya yang dimanfaatkan oleh penegak hukum Amerika untuk melakukan operasi senyap.

Dikendalikan oleh Matt Graver, yang konon konsultan hukum dan ham. Sebuah tim kecil dibentuk, melibatkan Koboy-Koboy Amerika, Alejandro, juga FBI.
Kate Racer anggota FBI yang sukses menggulung sindikat narkoba, direkrut masuk dalam tim tersebut.
Lalu film mengalir dalam tensi tinggi yang dibangun bukan oleh baku pukul atau baku tembak, tetapi oleh konflik batin Kate yang tak sepenuhnya tahu apa yag dikerjakan bersama tim bentukan Matt.
Emily Blunt yang memerankan Kate cukup mampu mengimbangi akting gemilang Benicio del Toro yang memerankan Alejandro.
Tim yang bekerja diluar prosedur itu benar-benar menyiksa Kate.

Nalurinya sebagai polisi bersih terusik. Tekanan atas proses operasi senyap yang menihilkan kemanusiaan menyiksa batinnya.
Konflik itu muncul sepanjang film, didukung sound dan musik yang bagus hasil besutan Jóhann Jóhannsson yang langganan mendapatkan penghargaan Golden Globe.
Alejandro yang merupakan eksekutor bekerja atas instruksi Matt Graver yang diperankan dengan apik oleh Josh brolin.

Alejandro menjadi kunci film selain Kate yang menjadi penjaga ritme film supaya tetap menegangkan dan emosional sampai akhir layar gelap.

-rahman-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar