23/04/16

Tarian Alia dan Mata Langit

sumber: jasonsmovieblog.com 
Angka 7.8/10 yang diberikan IMDb untuk film "Eye In The Sky" membuat kami mantap menuju bioskop untuk menontonnya.
Rotten Tomatoes yang pelit skor pun memberi nilai tinggi untuk film ini.

Film diawali dengan adegan sebuah keluarga muslim di Kenya,kota Nairobi.
Keluarga miskin tentu saja. Seorang bapak tampak berinteraksi dengan anaknya. Sebuah hulla hop dibuat agar bisa menyenangkan anaknya yang memang sedang di usia bermain.
Alia (diperankan dengan bagus oleh Aisha Takow) merupakan anak tunggal di keluarganya. Aktivitas sehari-harinya membantu ibu berjualan roti di tepi jalanan yang dikuasai Milisi Asshahab.
Kelompok militan ini digambarkan tengah menggencarkan aturan syariat Islam di Nairobi (yang kemudian muncul dikepala saya justru Aceh, saat adegan polisi syariah memukul para perempuan yang bajunya tidak tertutup secara sempurna karena bagian lengan tangan masih terlihat)
Juga saat tetangga keluarga Alia yang penganut islam garis keras marah dan menegur sang ayah saat melihat Alia asik main hulla hop, karena itu dianggap tidak sesuai syariat, lalu sang ayah memarahi Alia. Adegan penetapan syariah itu meski sekilas, tetapi justru yang membekas di ingatan. Adegan tersukses di film ini, buat saya.
Tergambar betapa tradisi Afrika yang ritualnya dipenuhi dengan tarian dan nyanyain terancam oleh keberadaan islam garis keras yang menetapkan syariat dengan ketat, yang imbasnya melarang semua jenis tarian dan nyanyian.

Adegan kemudian berpindah ke sebuah pangkalan militer dimana Kolonel Katherine Powel (Helen mirren) seorang komandan tentara Inggris tampak beraktivitas dengan anak buahnya. Sebuah layar terpampang di depan memvisualkan hasil kerja drone dari langit yang tengah mengintip aktivitas dibawahnya. Drone itu adalah milik USAF (Angkatan Udara Amerika Serikat)
Selain dibekali kamera super canggih di dalam drone juga terdapat misil yang siap diluncurkan untuk melantahkan target sasaran di bawahnya. Drone menjadi mata langit yang jeli merekam semua aktivitas di bumi.Melibatkan negara Inggris dan Amerika Serikat sebagai operator drone.
Sebuah operasi dengan target menghabisi tersangka teroris dimanapun posisinya, sedang dirancang.
Lewat kecanggihan mata langit diharapkan operasi penangkapan (atau pemusnahan) tersangka teroris akan meminimalisir korban karena bisa menghindarkan konflik darat antara pelindung teroris dan tentara. Rumah dimana tersangka teroris berada digambarkan dalam pengawalan ketat Milisi Asshahab bersenjata lengkap.

Konflik sarat emosipun dibangun, dan Alia menjadi penjahit cerita dan pusat drama.
Guy Hibbert sebagai penulis naskah jeli memainkan emosi disini. Keputusan untuk memuntahkan bom yang akan membinasakan teroris dan itu berarti menolong lebih banyak orrang dari bom yang sudah terpasang di tubuh para martir, dan efek bom yang akibatnya juga akan mengorbankan warga sipil di seputar rumah teroris yang menjadi sasaran mengaduk emosi sepanjang film.
Adegan saat para pengambil keputusan saling melempar wewenangpun membuat film ini terasa lebih emosional.
Mendiang Alan Rickman sebagai Frank Benson, jendral  yang  menjadi salah satu penentu apakah bom akan ditembakkan, mampu memerankan adegan dengan dingin. Juga konflik batin Steve Watt, sebagai eksekutor pengendali drone dan asistennya Carrie Gherson yang berulang kali meminta pertimbangan sebelum pelatuk di tarik.
Keputusan penting yang menyangkut nyawa manusia bisa jadi diputuskan saat yang berwenang sedang berak di toilet.
Secara keseluruhan, meskipun dalam alur yang agak lambat, film ini berhasil menguras emosi penonton. Klimaks film terasa saat keputusan menghabisi teroris di ketuk, lalu misil meluncur menghantam sasaran.
Tubuh manusia bergelimpangan, diantaranya Alia.

Alia gagal diselamatkan. Upaya seorang Agen Lokal, yang diperankan oleh Bhakat Ali (pemeran teroris di film Kapten phillips) menolongpun sia-sia.
Pelatuk terlanjur ditekan. Steve Watt dan Carrie dari jauh hanya bisa menangis. Zoom tubuh alia yang bergerak lalu diam menambah emosi, Juga ekspresi sedih Carrie yang diperankan dengan apik oleh Phoebe Fox.

Film ditutup adegan Alia sedang bermain hulla hop. Permainan yang mendadak haram di negara yang leluhurnya berdoa lewat nyanyain dan tarian.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar