30/04/16

UJIAN

Posting ulang tulisan di FB 30 April 2009, 08:03



Melihat tayangan berita tv , aku jadi ingat jaman masih sekolah di bangku SD, sekitar tahun 1986.
Dalam tayangan tersebut, tergambar adegan anak-anak seusia SMP sedang menyemut disebuah warung. Rupanya mereka sedang berbagi bocoran soal ujian. Keinginan untuk mendapat nilai akhir yang sempurna, membuat anak-anak itu menghalalkan segala cara. Tuntutan agar bisa lulus ataupun naik klas, membutakan nurani bocah-bocah polos itu untuk menerabas apapun, baik halal ataupun haram. Demi tercapainya satu tujuan. Berhasil meraih angka-angka terbaik.

Masih terbayang dikepalaku waktu tahun 1986 itu. Saat aku harus lulus SD dan mendapat nilai yang bagus agar bisa masuk SMP negeri. Beberapa temanku yang berkecukupan orang tuanya ikut dalam sebuah bimbingan belajar yang menjanjikan akan memiliki soal-soal mirip dengan apa yang akan di ujikan. Tentu saja, demi meraih nilai sempuna, teman-temanku yang mampu membayar ikut di kelas bimbingan tersebut.

Aku dalam hati kecil ingin ikut serta, tetapi pasti tidak akan di ijinkan oleh bapak. Bukan karena bapakku sadar itu tidak baik, tetapi karena memang tak ada uang untuk ikutan bimbel yang berbayar mahal tersebut.
Dan hasilnya memang terbukti, anak-anak yang ikut bimbel nilainya lebih baik. Yaa, karena mereka lebih siap dengan "jawaban yang mirip" itu ( kata lain dari bocoran sebenarnya)

Sedemikian karutnya sistem pendidikan negeri ini. Membayangkan tidak adanya perubahan sistem secara mendasar saja sudah mencemaskan. Bayangkan, dari tahun 1986 (yang tercatat di memori otakku, bisa jadi lebih) anak didik dari usia SD sampai SMA diajari untuk cemas dan menghalalkan segala cara demi angka. Demi nilai yang melebihi apapun proses belajar yang sudah terlewati.
kelulusan ditentukan oleh beberapa hari ujian, bukan oleh beberapa tahun proses belajar yang sudah disuntuki.

Sebegitu malasnyakah, para pelaku pendidikan di negeri ini, untuk memikirkan konsep pendidikan yang ideal terkait soal nilai-menilai? Terkait prasyarat lulus sekolah?
Sebegitu bebalnyakan para pemikir pendidikan di negeri ini, yang sampai detik ini tak memiliki konsep penilaian terhadap hasil pedidikan yang sudah mereka suntuki dan menjadi bagian dari kerja profesional mereka?

terlepas dari sistemnya, yang membuat miris adalah, ternyata sistem pendidikan kita, justru melahirkan generasi-generasi cemas yang tumpul hati nuraninya. Yang menghalalkan segala cara demi meraih prestasi akademiknya. di dukung pula oleh oknum-oknum yang memanfaatkan situasi tersebut dengan membuat "pertolongan instan" lewat bimbingan belajar.

Logika yang sederhana saja bisa dipakai untuk mengkritik fenomena bimbel itu. Apa gunanya ada institusi belajar bernama sekolah dengan guru-guru dan materi-matei belajar beserta kurikulum-kurikulumnya, kalau kemudian masih ada bimbingan belajar di luar sekolah? Bukannya itu sebuah pembodohan yang amat sangat? Bukankah itu pembuktian yang sangat jelas, akan tidak mampunya sekolah menjadi tempat untuk belajar yang layak, karena masih harus ada asupan gizi di sebuah institusi bernama bimbingan belajar!
Sudah itu, menjadi ladang bisnis pulak!!

Makanya, jangan heran, kalau kelak kemudian, ketika bocah-bocah itu tumbuh, kemudian duduk di posisi-posisi penting, seperti di kursi legislatif. Yang tejadi kemudian adalah munculnya kasus korupsi yang akut. Kesalahan mengambil kebijakan, dan kebobrokan-kebobrokan lainya.
Yah. Dari jaman masih "piyik" mereka sudah di didik untuk tidak menghargai kejujuran, juga proses menjadi "jadi".

Sepertinya sistem pendidikan kita punya andil melahirkan sengkarut ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar