Rabu, 03 Mei 2017

Bertemu Sisifus di dalam buku hitam


Terhitung sejak tahun 2013, saya dihubungi oleh kawan-kawan PKBI pusat untuk membantu membuat properti aksi berupa replika buku tentang catatan hitam buruh perempuan.
Tahun inipun saya dikontak oleh teman PKBI untuk kembali membuat replika buku (lagi).
Sempat bercanda dengan seorang teman, bahwa "proyek" bikin replika ini mirip sinetron "Tukang Bubur Naik Haji" yang sampai ber episode-episode (Alhamdullilah akhirnya jenuh juga dan diakhiri)

Saya kadang berharap di interview oleh para mbak-mbak aktivis itu, seputar perasaan hati nurani saya ketika harus mengulang dan mengulang lagi membuat buku replika, yang mana saya sampai mati gaya saat harus memvisualkannya. Membayangkan buku catatan hitam tentu saja hanya satu kata "MURAM"

Kadang  ada pesan dari si mbak aktivis terkait isu yang ingin disampaikan.

Tahun 2013, diawal ide membuat replika buku catatan hitam,  tidak ada isu spesifik.
Yang ingin ditampilkan hanya replika buku hitam besar dengan tulisan besar "CATATAN HITAM BURUH PEREMPUAN"
Tahun berikutnya tidak ada instruksi juga, saya bereksperimen memvisualkan wajah-wajah perempuan dengan ekspresi tertekan.
Tahun 2015, ada penekanan tentang nasib buruh yang teraniaya, saya gambarkan buruh yang meringkuk ketakutan.
Tahun 2016 lalu fokus isu mengarah ke nasib buruh di dalam penjara, lalu saya memvisualkan buruh di dalam penjara dengan tatapan nyalang. Dibelakangnya ada polisi yang berjaga.

Untuk tahun ini tidak ada pesan khusus, hanya figur perempuan yang ditampilkan diminta lebih beragam. Dari perempuan pekerja kantor sampai buruh gendong, lalu saya menambahkan gambar perempuan bersanggul sebagai perwakilan buruh gendong.

Yang pasti, saat menggambarkan buku catatan hitam, saya tak mungkin membuat ekspresi wajah perempuan sedang tersenyum atau selfie ditengah kemuraman.
Kemuraman  yang terbangun dari kumpulan catatan hitam yang menimpa nasib buruh perempuan, yang tak juga beranjak membaik nasibnya.

Di saat aksi,  sepertinya kasus itu lagi-itu lagi yang diangkat.
Mulai dari buruh kontrak, jam kerja yang tidak manusiawi, cuti yang tak adil baik cuti datang bulan atau cuti hamil atau cuti membesarkan anak (yakali)
 Apalagi ya? silahkan saja ditambahkan kalau masih ada.

Kembali ke pertanyaan diatas, yang mana saya berharap ditanya perasaan saya setiap tahun membuat replika buku catatan hitam.
Dan karena tak kunjung ditanya oleh para pemesan gambar, baiklah, saya cerita sendiri deh perasaan saya terkait "orderan" membuat replika buku "catatan hitam" tersebut. (ngotot cerita)

Saat saya sedang mencari ide untuk ilustrasi kover buku, lalu menggambarkannya.
Yang saya rasakan,  saya seperti Sisifus, makhluk mitologi Yunani  yang dikutuk untuk bekerja keras mendorong batu naik ke gunung.
Lalu saat replika buku itu selesai dan saya kirimkan ke pemesan, kembali Sisifus menjelma. Ada perasaan lega telah sukses mendorong batu sampai ke puncak gunung.
Apalagi jika publikasi aksinya bagus, berarti aksi yang dilakukan ter ekspose yang semoga berbengaruh terhadap nasib nuruh yang diperjuangkan.

Disaat setahun kemudian  saya mendapat pesanan yang sama, yang terasa adalah keruntuhan batu Sisifus.
Batu itu  berserakan di halaman rumah, dan saya harus menyusun ulang, lalu mendorongnya lagi,, dan lagi.
Saya malas mengaca,Karena ada wajah Sisifus di sana.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar